Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu merugi. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal sholeh, saling menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran.
Kapankah para pecinta berhenti mendendangkan bait-bait pujian bagi yang tercinta ? mungkin sekali, ratap kerinduan mereka tak pernah berhenti, hingga punah bumi ini
Syarifuddin Abu Abdillah Muhammad bin Sa’id Al-Busyiri
Imam, Ulama, Sekaligus sastrawan – adalah salah seorang yang “dirundung” cinta dan rasa kasihnya ditujukan kepada Al-Musthofa.
Karena tak mungkin menatap wajah yang dirindukannya, mencium harumnya, dan mendengar kelembutan suaranya, maka ia menyusun untaian Qasidah dalam Burdah nan indah. Disitu ia jeritkan kerinduan, dan disitu pulalah ia lantunkan pujian.
Namun Muhammad Rasulullah, sang kekasih, masih saja tak terjangkau oleh semua ungkapannya. Demikianlah, memang tak akan sanggup pena para sastawan, siapapun mereka, untuk melukiskan keutamaan insan pilihan Tuhan ini. Dan Al-Busyiri akhirnya menumpahkan sejuta harapan, dibalik syair-syairnya sendiri.
Nama Al-Burdah ini kemudian menjadi terkenal. Dan ternyata bahwa tujuan penyair dalam menyusun Qosidah ini agar mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang lama diidapnya, yang tak dapat disembuhkan oleh para Dokter, yaitu kelumpuhan sebagian badannya yang diakibatkan oleh angin merah
بسم الله الرّحمن الرّحيم
مَوْلايَ صَلِّ وَ سَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا * عَلىَ حَبِيْبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ Wahai Allah limpahkanlah Selalu Shalawat dan Salam atas kekasihMu sebaik-baik makhluk seluruhnya
Mengapa kau menangis dengan mengalirkan airmata bercampur darah, apakah itu pertanda dari teringatnya selalu kau pada kekasihmu yang berada di Dzi Salam ( nama sebuah tempat antara Makkah dan Madinah )
Apakah hembusan angin yang datang dari arah Kadzimah ( nama jalan ke Makkah ) menyebabkan engkau berkhayal tentang wangi-wangian yang sampai kepadamu. Ataukah sinar kilat dari Idhom ( nama lembah dekat Madinah ) pada malam pekat, yang menumbuhkan bayangan akan rumah kekasihmu
Kalau bukan karena cinta, tak akan mungkin kau tangisi reruntuhan rumah kekasihmu, dan tidak pula malamnya kau tak bisa tidur, melihat pohon Bhan ( pohon yang berbau harum ) dan gunung sebagai dua tempat yang berdekatan dengan kekasihmu
Nabi Muhammad sebagai pemimpin yang termulia di dunia dan akhirat. Dan pemimpin yang mulia atas manusia dan jin serta golongan Arab dan Ajam ( bukan Arab )
Dialah seorang kekasih yang tercinta yang dapat diharapkan pertolongan dan syafaatnya dihari kiamat nanti. Pada saat cengkeraman malapetaka terlihat menakutkan.
Nabi Muhammad melebihi Nabi-nabi yang lain, baik dalam rupa maupun budi. Dan tidak seorangpun dari nabi2 itu menyamai tingkat ilmu serta kedermawanannya.
Sebenarnya semua nabi2 itu telah meneguk ilmu dari Rosul, adalah seumpama mengambil segayung air laut atau meneguk sedikit dari hujan yang lebat. Demikianlah perbandingan betapa luas dan tingginya ilmu Rosulullah. yang semisal luasnya laut dan melimpahnya air hujan.
Dan sejauh yang diketahui manusia, bahwa Rasulullah adalah manusia biasa, sesungguhnya beliau merupakan makhluk Allah yang terbaik dari segala makhluknya.
Keutamaan Rasulullah dengan Nabi2 yang lain adalah seperti matahari dan bintang, sedang cahaya bintang tidak lain adalah pantulan cahaya matahari, maka cahaya bintang itu sesungguhnya adalah juga cahaya matahari untuk menerangi kegelapan manusia.
Sesungguhnya aku telah mendapat keamanan dari Nabi. karena namaku sama dengannya. Muhammad, dan perbuatan dosa tidaklah akan menghapus nama. Dan beliaulah seorang yang paling setia untuk memenuhi janji
Wahai makhluk paling mulia tidak seorangpun tempat berlindung kecuali Engkau, apabila saatnya kiamat yang akan membawa malapetaka ke seluruh umat manusia.
Dan dari kedermawananmu, kebaikan dunia dan akhirat, kebaikan dunia yaitulah petunjuk2nya kepada manusia, kebaikan akhirat adalah syafaatnya. Sedang ilmu yang ada di lauhul mahfudz tidak lain adalah ilmumu.
Semoga rahmat Allah kepada makhluknya setimpal atas dosanya, dan dengan dosaku yang besar ini, akupun mengharapkan rahmat Allah sebanding dengan besarnya dosaku.
بُشْرَى لنا مَعْشَرَ اْلإسْلام إنَّ لنا * مِنَ الْعِنايَةِ رُكْنا غيْرَ مُنهَدِمِ
Makna bait
Suatu kabar gembira bagi kita umat Islam, karena kita mempunyai agama yang tidak berubah dengan lindungan Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi..
Kasihanilah hambamu didunia dan akhirat sesungguhnya ia tidak mempunyai kesabaran menghadapi bencana, sehingga sekali ia terkena bencana maka ia akan lari.
Bersabda Nabi (shallaallahu 'alaihi wa sallama) ;”siapa yang bersholawat kepadaku pada satu hari 100 x , maka akan menunaikan Allah baginya 100 kebutuhan, 70 diantaranya diakhirat dan 30 diantaranya di dunianya.
Beralih pulang dari yang kuanggap setan atau justru setan ini yang tengah menghindar dari wewangian ujian kenaikan.
Biarlah setan menganggap setan dari beberapa setan.
Aku mencoba hilang.
Aku mencoba suci
Mencoba sesuatu yang sebenarnya bukan lagi baharu.
Masih seperti kemarin,
Namun dengan asa lain yang selalu kuharap untuk kurasa dan temukan. Bukankah Tuhan tidak akan merubah apa yang tidak ingin ku rubah.
Ternyata memang bukan setan!
Baru saja ia pulang memutuskan tarian tangan dari yang ternyata setengah setan. Aku merasa seperti itu, karena berusaha berulang kali memutuskan harapan yang berhajat kepadaku. Padahal telah sampai ke telingaku kisah para kekasih Tuhan yang mendahulukan keinginan awam dari keinginan diri.
Tetapi sebenarnya aku masih ingin hilang!
Seperti seorang cerdik yang menamai kamarnya "pekojan"
Seperti gajah dipelupuk mata orang-orang lalai
Aku seperti sedang berlari dengan tarikan-tarikan yang menyobek ujung pakaian belakang. Seperti larinya Yusuf menghindari Zulaikha. Seperti sentuhan tangan perpisahan di persimpangan yang tak jua terlepas dari sepasang insan yang dirundung kesedihan mendalam dengan hati yang tak mau dimatikan. Aku ingin tidur panjang tanpa mimpi yang hanya akan membuaiku dalam yang kuanggap setan namun bukan.
Halusinasi daun hijau menengadah luas cakrawala di ketinggian yang tertinggi tak juga mampu kutahan dan tak juga mampu ku bungkam.
Namun desakan permohonan awam pun terus-menerus mengiang pada lubang telinga yang sebenarnya telah ingin kusumbat dengan ujung daun hijau menengadah luas cakrawala.
Foto itu!
Alam ketika azan maghrib dikumandangkan, terus merayu, merajuk, melambai, meminta kedatangan bukan hanya hati, pikiran, bahkan raga dengan enam indranya. Meganya yang anggun memintaku untuk menyuntingnya secara sempurna. Nyanyian fiksinya membuat visualisasi himmah memendam dari padang rumput hitam, bukan, tapi yang berada di bawahnya.
Foto itu!
Alam ketika azan maghrib mengumandang ingin sekali ku bentuk dari saripati awam-awam dengan tengadahan tangannya.
Aku ingin hilang!
Tapi tidak! Jika bisa kuwarnai awam-awam itu dengan sentuhan kelicikan atau tepatnya kecerdikan.
Aku melihat!
Aku melihat mereka yang berhasil menghilang tengah berusaha mempertahankan kelenyapannya dengan berusaha lagi menyelam-nyelami Samudera terdalam tanpa bantuan oksigen, hanya meniadakan diri dengan amalan yang sebutlah ia peng-Esaan suci lebih.